:::: MENU ::::
  • Suitable for all screen sizes

  • Easy to Customize

  • Customizable fonts.

Sunday, February 17, 2019

Menulis adalah masalah mood, begitulah ketika hendak mulai menulis maka emosi akan bermain dengan sendirinya. bagi yang tidak dapat mengendalikan emosi dengan baik bisa dipastikan tulisannya tidak akan menjiwai dan mengena ke audiense pembaca.
saya dapat dikatakan untuk menulis juga tidak selalu memiliki mood yang baik. itulah sebabnya, saya merasa tugas menjadi seorang penulis itu tidak mudah, sehingga sedikitnya penulis karena alasan tadi.
niat menulis memang sudah tertancap pada diri sendiri, bahkan bagi para penulis yang sudah sukses mereka sudah melewati fase tersulit dari membuat tulisan. belum lagi bila tulisan itu sudah selesai dan siap diproduksi. bisa dipastikan kita akan banyak menemukan kekurangan dan kelemahan dalam tulisan kita.
teman saya seorang seniman pernah memberikan tips bagaimana seorang seniman bisa menghasilkan karya. mereka seakan tidak kehilangan ide untuk membuat karya yang bisa dikatakan unik dan tidak dipikirkan sebelumnya. kebetulan teman saya ini berkuliah di jurusan seni UNJ, setiap hari saya harus melewati fakultas bahasa dan seni dan setiap pagi itu pula saya mendapatkan hal-hal baru yang out of the box untuk di perhatikan.
kembali tips seorang seniman menulis, teman saya bilang bahwa seni terindah hanya dimiliki oleh tuhan. dari situ mereka mendapatkan kepercayaan diri untuk membuat karya seni, sebab pasti hasilnya nanti akan banyak kritik dan bisa jadi malah banyak yang memuji.
pernah suatu ketika ada seorang yang di ajak temannya mengikuti pameran seni. salah satu temannya sepanjang perjalanan pulang terus membahas betapa tidak menariknya karya seni yang dihasilkan. saking kesalnya ia mengatakan dimana detail sebuah karya seni itu dikatakan karya yang buruk. beliau menyebutkan dan mengingat dengan jelas karya-karya tersebut seakan-akan karya tersebut merupakan musuh besarnya.
diakhir cerita temannya memberikan pendapat. bila memang karya tersebut tidak menarik mengapa engkau begitu tahu detail dan spesifik dari karya tersebut. tanpa disadari karya tersebut ternyata telah menginternalisasi atau masuk dalam alam bawah sadarnya dan membuat ia teringat terus dengan karya tersebut. luar biasa bukan, karya yang dianggap buruk saja ternyata masih menjadi pembahasan bahkan oleh pembencinya.
kembali saya komparasikan dengan konteks penulisan, rasanya akan sama saja. tulisan terbaik jelas hanya di miliki oleh Tuhan yaitu Allah SWT. kita bisa lihat Al-Quran al-karim. didalamnya tidak ada cacat dan salah, tidak ada kesalahan, kontradiksi, dongeng,dsb. banyak orang yang masuk kedalam Islam hanya karena membaca satu dua ayat dalam Al-Qur'an, bisa dibayangkan bila kita membaca seluruh isinya bisa dipastikan kita akan terkesima dengan lengkapnya Al-Qur'an membahas sesuatu.
oleh sebab itu, saya menyakini bahwa menulis adalah sebuah relatifitas, bisa jadi dia menarik bagi satu orang, belum tentu orang lain.
hanya saja bagi penulis besar, mereka semua sudah dapat menarik orang secara lebih masif (banyak). pernah saya melihat sebuah tayangan video dimana seorang wanita terlihat marah-marah kepada pegawai toko buku, karena buku yang dicarinya tidak ada. yang jadi masalah, buku tersebut penulisnya dan penerbitnya benar-benar tidak dikenal oleh penjual buku. hingga si wanita menarik banyak sekali perhatian pengunjung toko buku.
sambil mengiba si wanita menanyakan ke para pengunjung tentang penulis dan penerbit buku. tak satupun yang mengenalinya, sang pemilik toko buku mengecek buku tersebut, dan ternyata memang ada.
jadi setiap tulisan kita pasti ada yang suka membacanya, jika tidak ada yang suka minimal kita sendiri yang suka. Jika kita sendiri tidak suka, tawarkan keorang lain. bisa jadi bagi mereka tulisan kita memberikan manfaat untuk mereka.
jangan lekas putus asa dari menulis, sebab, para penulis besar hari ini, andrea hirata atau tere liye dulunya juga bukan penulis yang diperhitungkan. namun, ketika mereka sudah menunjukkan tulisannya orang ternyata suka.
andrea hirata contohnya, beliau sendiri menulis laskar pelangi hanya untuk menghibur gurunya yang sedang sakit. bahkan naskah yang ia buat pun, ia sendiri lupa menaruhnya hingga kemudian dibaca dan ternyata begitu menginspirasi banyak orang.
buatlah tulisan anda menjadi bagian-bagian yang dapat anda buat, jangan memaksakan membuat banyak tulisan namun kemudian libur menulis untuk waktu yang lama.
penulis novel dan buku apapun tidak dibuat dalam satu malam, mereka membuatnya dalam waktu dan perhitungan yang tidak sebentar. namun, ketika mereka sudah menemukan missing link menuju penulis berbakat. mereka akan di kenang dalam sejarah sebagai penulis sukses.
selamat menulis.

0 comments:

Post a Comment

Hubungi Kami pakimam.com